Showing posts with label writes. Show all posts
Showing posts with label writes. Show all posts

September 09, 2012

Panakawan


Pana berarti menerangi dan Kawan berarti teman. Ini adalah istilah pewayangan untuk satu set ‘jelmaan’ dalam diri manusia, yang terdiri dari Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Masing-masing memiliki karakteristiknya. Sama seperti manusia.
Semar merupakan ‘raja’ dalam diri, yang memerintahkan untuk selalu melakukan aktivitas sebagai ibadah kepada Tuhan. Jika di dalam hati manusia ada Semar, manusia akan selalu mendasarkan segala kegiatannya sebagai bentuk ibadahnya pada Tuhan. Sekecil apapun itu. Bernafas akan dianggap sebagai berkah, hal-hal yang sulit akan dianggap sebagai tantangan untuk mendapatkan segala yang lebih mudah, stand up comedy akan dianggap memberikan hiburan bagi orang lain. Hidup manusia yang memiliki Semar di dalamnya akan terasa lebih ringan dengan spiritual quotation (SQ) yang tinggi. Ia senantiasa berbahagia dan juga bermanfaat bagi orang lain.


Gareng berasal dari kata Arab ghoiron yang berarti berbeda. Gareng mampu melihat segala sesuatu dari angle yang berbeda dari yang dilihat pandangan umum. Maka Gareng bisa menjadi lambang intelektualitas dari seorang manusia. Jika ia sedang kritis terhadap suatu hal, manusia itu berarti sedang meng-Gareng.
Petruk atau fatruk dalam bahasa Arab memiliki arti meninggalkan semuanya. Hal ini sesuai dengan watak Petruk yang meninggalkan kedukaan alias easy going. Ia sangat santai akan berbagai hal. Terlalu banyak Petruk dalam diri manusia memang akan mengakibatkan ia menjadi asosial karena jarang menganggap serius segala masalah. Namun Petruk bisa dijadikan watak ampuh untuk mengatasi masalah-masalah yang sedang meliputi. Manusia yang santai tentu akan lebih disukai dibandingkan manusia yang penuh kerumitan. Ya kan? Consider your step before leap merupakan penggambaran manusia dengan jiwa Petruk yang seimbang.
Bagong juga berasal dari bahasa Arab bagho berarti membantah. Manusia yang memiliki Bagong memiliki keinginan untuk memberontak akan sesuatu. Jangan dipandang sebagai sesuatu yang negatif dulu. Takaran Bagong yang pas di seorang manusia akan menjadikannya changemaker begitu melihat ketidakpasan di sekitarnya. Namun jika takaran Bagong berlebih, manusia itu tentu akan menjadi pemberontak yang merusak, seperti remaja-remaja pengguna narkoba itu.
Kapan menggunakan Gareng atau Petruk atau Bagong ini diatur oleh Semar. Semar harus bijak dalam menggunakan ketiga watak ini. Berlebihan di salah satu sisi akan mengakibatkan ketidakseimbangan karakter pada diri manusia yang bisa menimbulkan ketidakdamaian hati manusia itu sendiri. Perilaku buruk juga diakibatkan oleh gagalnya Panakawan ini. Jika seorang manusia mampu memunculkan Panakawan dalam dirinya, ia akan memiliki AQ-IQ-EQ-SQ yang tinggi sehingga budinya pun akan baik terjaga serta disenangi manusia lainnya.

September 08, 2012

Wayang


Membaca Jiwo J#ncuk milik Sudjiwo Tedjo seperti menyelami pikiran yang berbeda. Dalang Tedjo melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang paling tepi, bukan di tengah seperti jangkauan sudut pandang orang-orang kebanyakan. Dengan pemikiran seperti itu, tidak heran jika Dalang Tedjo mampu melihat dan mengkritisi hal-hal yang kecil. Atau meramu fakta-fakta yang bertebaran untuk dijadikan satu kesimpulan. Tidak berhenti sampai di situ, ramuan kesimpulan itu justru menerbitkan opini lainnya. Discuss-able.



Bisa jadi ini banyak dipengaruhi oleh kebisaannya ndalang. Cerita-cerita nJawane ini mengandung banyak kisah sosial ber-setting kerajaan. Nilai-nilai moralnya merupakan dasar-dasar kebijaksanaan dan spiritual yang masih bisa berlaku hingga zaman modern seperti sekarang. Padahal zaman dulu dengan zaman sekarang terkesan amat berbeda. Walaupun moral story cerita wayang tidak mampu menggerus zaman, sayangnya eksistensinya terasa tergerus.

Membaca cerita wayang membawa sensasi yang lebih beragam. Dahi seketika berkerut, mulai dari nggak ngerti tentang silisilah lakon pewayangan yang emang sarat dengan selingkuh sana-sini, anak kesekian dari raja ini, hingga pelafalan nama tokoh yang sepertinya Sansekerta banget. Beruntung jika pernah sempat menonton tayangan manusia-naik-elang. Pengalaman ini penting untuk mendukung imajinasi akan setting kerajaan berikut kostum dan dialeknya. Walau begitu, ceritanya tetap mampu dinikmati bahkan dengan emosi yang lebih dapat ditangkap dibanding cerita-cerita fantasi bersekuel. Dalam beberapa waktu setelah membaca cerita Yudistira –Sang Prabu Ajatasatru (raja dengan tingkat keikhlasan paling tinggi), gue cukup terbengong dengan jantung masih berdetak cepat. Speechless akan keikhlasannya yang tersibak di ending walaupun saat awal-awal cerita hingga di tengah, masih kepikiran akan silsilah berikut segudang pertanyaan mengapa ia begini dan begitu. Ternyata memang lebih sulit membaca cerita wayang Jawa dibandingkan membaca strategi perang Amerika.

October 16, 2011

Tea for Two

Penulis : Clara Ng
Pernah merasa kecanduan cinta? Pernah merindukan kekerasan yang katanya atas nama cinta? Sassy menjawab ‘iya’ pada kedua pertanyaan itu. Dirinya merasa hilang sebagian justru ketika ia menemukan pasangan hidupnya. Dirinya merasa bukan dirinya lagi ketika ia menikah. Tapi saat ia mencari dirinya yang dulu itu, ia terjebak dalam kata-kata berembel cinta. Konsepsi cinta yang indah membuat Sassy tidak mampu melepaskan cintanya pada suami yang telah melakukan kekerasan padanya berkali-kali. Namun, konsepsi itulah yang juga merupakan cikal-bakal berdirinya perusahaan biro jodoh miliknya, Tea for Two.

Lalu konsepsi cinta itu harus segera diubahnya. Cinta yang sehat bukanlah cinta yang buta, tetapi mampu membuatnya bahagia. Selamanya. Konsepsi cinta yang baru ini baru ia temukan setelah ia berusaha bangkit dari kegagalan pernikahannya. Bagaimana dengan Tea for Two? Ternyata konsepsi cinta yang baru ini juga Sassy bawa ke Tea for Two. Ia mengingatkan pasangan-pasangan yang bertemu di Tea for Two untuk berpikir bahwa pernikahan tidak seindah yang dibayangkan sebelumnya. Maka itu, sangat perlu bagi masing-masing pasangan untuk menyadari itu agar bisa saling menguatkan jika pernikahan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Biar bagaimanapun, menikah atau tidak menikah adalah pilihan. Jika tidak siap, lebih baik siapkan diri terlebih dahulu.
Novel Tea for Two ini menyadarkan untuk lebih berhati-hati ketika memilih pasangan. Seringkali pasangan-pasangan yang terlalu terbuai dengan namanya cinta, tidak berhati-hati bagaimana sifat asli pasangannya yang mungkin akan mengancam kelangsungan hubungan. Tea for Two juga membuat berpikir untuk lebih menjaga hubungan sampai dengan batas yang wajar. Terlebih lagi, Tea for Two menyiratkan bahwa KDRT maupun kekerasan dalam hubungan asmara sangat mungkin terjadi pada semua perempuan. Perlu sikap yang dewasa dan kesadaran tinggi dalam menjalaninya.
Clara Ng telah menyuguhkan cerita ini jadi begitu ringan dibaca tetapi tetap membangkitkan emosi. Alur ceritanya yang maju mundur tidak membuat saya bingung karena cara memutar alurnya yang sempurna. Di novel ini, Clara memakai dua sudut pandang. Sudut pandang pertama yaitu orang ketiga di luar cerita. Sudut pandang yang kedua yaitu orang pertama tokoh utama. Kedua sudut pandang ini dibedakan oleh jenis font. Kelebihan dari pemberian dua sudut pandang seperti ini membantu saya untuk lebih mudah memahami emosi tokoh utama. Emosi yang sangat kental seperti ini mampu membuat saya kecanduan membacanya serasa seperti menonton sinetron yang tidak monoton. Asyik abis!